Minggu, 03 April 2022

Berlapang Dada Melawan TBC dan ODGJ

 Hai ! Bertemu lagi denganku Shafira Mega Utami, lama tak jumpa setelah 7 tahun menghilang dari dunia blog. Kali ini aku kembali dengan berbagai pengalaman, dengan aku yang mungkin sudah berbeda dibanding dengan tulisan-tulisanku sebelumnya. Aku yang sudah menginjak usia dewasa, aku yang sudah setengahnya belajar arti kehidupan, dan aku yang belum selesai mengejar cita-cita. Sungguh, dewasa memang terdengar seberat dan se-baku itu. Sebelum aku mulai menulis cerita ini, aku menyempatkan untuk membaca selintas tulisan-tulisanku yang lampau di blog ini. Terdengar lucu sekali, dimana saat usia ku yang masih menginjak remaja, permasalahanku hanya sebatas perayaan 17 agustus, typing alay, atau seputar fangirling. Diriku yang dewasa ini sangat rindu akan hal-hal sepele seperti itu. Berbeda dengan hari ini, tepatnya aku yang memutuskan untuk bercerita hal yang menurutku berat ini kepada publik. Memulai usia dewasa dengan jiwa yang rapuh karena sebagian kehangatanku sudah diambil Sang Pemilik. Ayahku sumber kehangatan kasih keluarga, sudah berpulang pada 2015 ke tempat yang paling indah. Saat itu kehidupanku terombang-ambing, tak pernah setitikpun aku terpikirkan hal ini akan terjadi, semua seperti mimpi, kehidupanku seolah berhenti namun pada kenyataannya dunia tetap berjalan pada porosnya, seperti biasanya. Tahun demi tahun bangkit kembali, kehidupanku tak hanya sampai di tahun 2015, aku harus tetap berjalan dan masih ada sebelah orangtuaku yang harus dibahagiakan. Kehidupanku mulai berangsur normal kembali, 2017 akhir aku mulai merantau untuk bekerja sambil mengumpulkan modal untuk berkuliah nanti. Akan tetapi aku percaya bahwa hidup itu seperti roda, kadang ada di atas dan ada saatnya dibawah. 

Tepat satu tahun bekerja, aku memutuskan untuk resign dan pulang. Begitu banyak alasan aku harus berhenti namun salah satu alasan terbesar adalah aku harus merawat nenekku yang mengidap TB MDR (Multi Drug Resistant Tuberculosis) kondisi dimana kuman penyebab tuberkulosis sudah kebal (resistan) terhadap dua jenis obat, seperti isoniazid dan rifampisin. Atau singkatnya nenekku sebelumnya mengidap TBC namun pengobatannya tidak tuntas dan mengakibatkan bakteri semakin kuat bahkan sudah kebal dengan obat yang sebelumnya. Mengapa nenekku tidak tuntas saat pengobatan TBC sebelumnya? Aku sangat memaklumi, karna yang merawat nenekku pada saat itu adalah kakekku, aku paham betul kakekku sangat minim pengetahuan soal medis, atau mungkin efek usia yang merenggut ingatannya. Aku sangat paham betul, namun dimana anak-anaknya yang lain? Keluargaku terbilang keluarga yang sangat berkecukupan, masing-masing anggotanya harus bekerja habis-habisan untuk tetap hidup hari ini dan esok hari. Jika harus mengurus nenekku yang tempatnya jauh dari tempat tinggal masing-masing anak, banyak sekali pertimbangan soal pemasukan ekonomi. Dan awalnya semua baik-baik saja, tak terlihat ada keganjalan atau tanda-tanda pengobatan tidak tuntas. Namun di akhir 2018 efek dari ketidaktuntas-an itu mulai muncul. Banyak gejala yang semakin parah, tak lama pemeriksaan nenekku di diagnosa mengidap TB MDR. 

Nenekku hanya mempunyai 3 orang anak perempuan, ibuku adalah anak sulung dan 2 anak lainnya sudah angkat tangan, menyerah duluan untuk mengurus nenekku. Ibuku dirumah mempunyai toko kelontong yang jaraknya sekitar 5 meter dari rumah. Setiap hari harus bolak-balik mengurus makan dan obat nenekku. Karna pengobatan TB MDR aku katakan sangat ekstrim, setiap harinya nenekku harus di suntik selama beberapa bulan di puskesmas. Ya, disuntik setiap hari, silahkan bayangkan. Selain itu, ia harus meneguk obat-obat yang besar sebanyak 8 tablet dalam setiap harinya. Melihatnya saja hatiku sangat teriris, melihat kondisi nenekku yang semakin kurus, nafsu makannya yang sudah hilang karna efek obat dalam tubuhnya, kulitnya yang menghitam dan bersisik lagi-lagi efek samping obat. Sungguh, penyakit yang baru ku ketahui ini sangat kejam. Aku mulai mengulurkan tangan untuk merawat nenekku, dari mulai merayunya untuk makan, hingga meneguk ke-8 obatnya. Ia sungguh sangat tak berdaya, semua keluargaku hanya bisa pasrah. Setiap hari nenekku diisolasi, karna bakteri TB MDR bisa menular hanya dari hembusan nafas. Kami yang merawat harus ekstra dalam kebersihan, seperti memakai masker, kurang lebih sama seperti yang dilakukan di pandemi ini. 

Obat suntik sudah tuntas, tinggal beberapa bulan lagi harus meneguk 8 obat dalam sehari. Setiap beberapa bulan sekali nenekku harus control ke bandung untuk mengecek hasil lab di paru-parunya. Transportasi sudah di fasilitasi oleh puskesmas setempat, namun yang membuatku terenyuh, ternyata banyak sekali yang mengidap TB MDR, penyakit yang tidak memandang umur, kebanyakan lansia namun ada juga beberapa yang seusiaku. Dan paling menyakitkan, banyak pejuangnya yang gugur di tengah jalan. Setiap bulannya satu persatu gugur tak ikut control, ada yang menyerah dan dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, ada juga yang sudah berjuang mati-matian namun Tuhan sudah cukup melihat perjuangannya, dan memintanya untuk pulang.  

Satu tahun lebih telah dilalui, dokter menyatakan nenekku sudah sembuh dari TB MDR, kami sekeluarga bisa menghela napas untuk beberapa saat karna sudah tidak perlu membujuknya lagi untuk meneguk obat yang jumlahnya sangat banyak. Ujian ini sudah kami lalui, muncul lagi ujian baru yang levelnya lebih rumit. Pendengaran nenekku hilang, akal sehatnya pun setiap harinya semakin menghilang. Kami sudah menduga bahwa ini semua akibat dari efek samping kerasnya obat yang telah ia konsumsi selama setahun belakangan ini. Gejala awal dimulai dari pendengaran yang berdengung, muncul suara-suara bisikan, imajinasinya yang mulai mendominasi, hingga tidak bisa membedakan mana kejadian yang nyata dan mana yang hanya imajinasinya. Rutin melakukan pengobatan ke dokter spesialis jiwa, ustad setempat, ustad luar daerah, namun hasil tetap nihil. 

Kami sudah pasrah karna diingat pengobatan spesialis jiwa biaya nya sangat mahal, keluargaku sudah tidak sanggup melanjutkan pengobatan. Untuk saat ini hanya bisa merawatnya dengan sabar, ikhlas, dan pasrah kepada sang pencipta. Seperti yang pernah di lansir website https://nusaputra.ac.id/tentang/nilai-nilai-luhur/ bahwa kita harus memiliki nilai-nilai luhur sekaligus juga merupakan manifesto dalam perjuangannya meraih visi misi. Nilai-nilai itu disebut dengan Trilogi Nusa Putra yang harus dijungjung tinggi dan menjadi bagian dalam kehidupan seluruh insan Nusa Putra. Salah satunya yaitu Amor Parentium CINTA KASIH ORANG TUA. Sebagai kekuatan insan Nusa Putra untuk menjaga ajaran dan nilai-nilai luhur rasul, leluhur, kedua orang tua dan guru-guru kita serta orang orang soleh sebelum kita.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar